Rasa sesak dan lupa akan sadar pernah tertanam didalam
Diam, dan berputar dalam tempat yang seharusnya cinta ada di situ
Tertawa pernah hanya jadi topeng dalam hidupku
Aku tertawa bukan karna larut dalam cerita lucu yg aku dengar, aku tertawa hanya untuk menghibur diri, Atau hanya kedok agar tidak dicap begitu menyedihkan
Aku hanya meringis kecil saat luka ini terbakar cuka asam, Kemudian sedikit tertawa agar tidak terlalu berasa pedih
Aku tidak menangis,aku tidak menyalahkan siapa-siapa, Tidak juga pada Tuhan
Aku tidak ingin menangis,
Dan membiarkan orang lain menatapku aneh
Aku tidak ingin datang dan berkeluh, Dan menuntut cinta untuk kembali
Aku juga tidak ingin menjerit,Dan minta sebuah bahu untuk bersandar
Namun akhirnya aku terdiam,dan berhenti tertawa
Aku diam, Aku menangis, tapi masih dalam diam dan Tidak mengharap satu telingapun mendengar isak tangisku
Saat semua tengah lelap,Aku peluk diriku dalam gelap, Suara napasku tengah jelas dalam ruang yg sepi,
Di hadapan cermin dengan muka lembam basah menjerit dalam diam
Memukul ruang-ruang yang memukul ku dari dalam
Lukaku kian busuk,
Belatung-belatung kian nyaman jilati sisi lukaku,
Berlapis nanah matang yg lengket sana-sini
Aku tidak berharap…
" Tidak, aku berharap.. "
Aku berharap ada yang datang dan tanyakan,
“mengapa?”
Bukan, bukan seperti itu
Aku berharap ada yang datang dan diam di sisiku
Walau hanya duduk mematung dalam hitungan menit
Aku sangat berharap, sungguh!!!!!
Bahagia itu pilihan, kan?
Seperti aku yang memilih untuk bahagia
Walau hanya kebohongan,
Aku sedang bahagia,aku sangat bahagia
Dengan cara ini, aku hidup
Belajar banyak dari dalam diriku
Dari diriku yang selalu aku liat,
Di hadapan cermin,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar