Jumat, 18 Januari 2013

Bahagia itu pilihan, kan?

Rasa sesak dan lupa akan sadar pernah tertanam didalam

Diam, dan berputar dalam tempat yang seharusnya cinta ada di situ

Tertawa pernah hanya jadi topeng dalam hidupku

Aku tertawa bukan karna larut dalam cerita lucu yg aku dengar, aku tertawa hanya untuk menghibur diri, Atau hanya kedok agar tidak dicap begitu menyedihkan

Aku hanya meringis kecil saat luka ini terbakar cuka asam, Kemudian sedikit tertawa agar tidak terlalu berasa pedih

Aku tidak menangis,aku tidak menyalahkan siapa-siapa, Tidak juga pada Tuhan

Aku tidak ingin menangis,
Dan membiarkan orang lain menatapku aneh

Aku tidak ingin datang dan berkeluh, Dan menuntut cinta untuk kembali

Aku juga tidak ingin menjerit,Dan minta sebuah bahu untuk bersandar

Namun akhirnya aku terdiam,dan berhenti tertawa

Aku diam, Aku menangis, tapi masih dalam diam dan Tidak mengharap satu telingapun mendengar isak tangisku

Saat semua tengah lelap,Aku peluk diriku dalam gelap, Suara napasku tengah jelas dalam ruang yg sepi,
Di hadapan cermin dengan muka lembam basah menjerit dalam diam

Memukul ruang-ruang yang memukul ku dari dalam


Lukaku kian busuk,
Belatung-belatung kian nyaman jilati sisi lukaku,
Berlapis nanah matang yg lengket sana-sini

Aku tidak berharap…

 " Tidak, aku berharap.. "

Aku berharap ada yang datang dan tanyakan,

“mengapa?”

Bukan, bukan seperti itu

Aku berharap ada yang datang dan diam di sisiku

Walau hanya duduk mematung dalam hitungan menit

Aku sangat berharap, sungguh!!!!!

Bahagia itu pilihan, kan?

Seperti aku yang memilih untuk bahagia

Walau hanya kebohongan,

Aku sedang bahagia,aku sangat bahagia

Dengan cara ini, aku hidup

Belajar banyak dari dalam diriku

Dari diriku yang selalu aku liat,

Di hadapan cermin,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar